sepucuk surat dari gluguduwur

Minggu, 7 Oktober 2001, saat itu usiaku menginjak 19 tahun, aku baru saja pulang merantau dari Yogyakarta. Sudah hampir 2 minggu aku dirumah. Tiba-tiba Nur Cahyadi seorang sahabatku menawari aku sebuah pekerjaan, tanpa
berfikir panjang lagi aku mau. hari senin, 8 oktober
2001, pagi-pagi sekali aku diantar oleh nur ke tempat kerja, ini adalah pengalaman kerja kedua aku. Tepat pukul 07.00 kami sampai di tempat tujuan, disinilah tempat kerjaku sekarang, di sebuah Toko Elektronik di Kota Pangandaran, sehari tinggal disini aku langsung betah, dan keesokan harinya aku selalu pulang pergi mengendari sepeda janky Tuaku produksi tahun 1970 an, sepeda ini adalah pemberian ayahku sewaktu aku masih duduk dikelas 1 sd, ketika itu ayah berjanji padaku jikalau aku
berhasil menembus sekurang-kurangnya Peringkat 2 sekelas ayah berjanji akan membelikanku sepeda,Berkat kerja keras dan doa,akhirnya aku berhasil meraih Ranking ke 2 dari 18 siswa di SDN 1 Sidomulyo, Pangandaran. Hari berganti hari tanpa terasa aku sudah hampir 1 tahun bekerja di Toko Elektronik ini, disamping aku bekerja aku juga menimba ilmu tentang elektronik disini,walaupun pendidikanku hanya sebatas SMP, aku tengah membuka usaha kecil- kecilan dirumah sebagai tukang servis elektronik disamping aku bekerja disitu.Jum’at, 5 April 2002 aku kedatangan sahabat baru namanya Pipit Anggraeni dari Singaparna- Tasikmalaya, walaupun dia seorang perempuan tetapi dia tak kalah hebat dari aku,dia juga paling jago masalah elektronika, pendidikanya pun sama seperti aku cuma sebatas SMP. Kini hari-hariku semakin berarti ketika adanya sahabat baru. setiap hari setiap waktu kami selalu bersama-sama dalam satu ruangan,bahkan ketika makan siang kami selalu bersama.Tuhan Maha adil, hingga suatu ketika diantara kami tumbuh rasa cinta, dan untuk pertama kalinya aku mengenal perempuan sebagai cinta. Pipit adalah sosok wanita yang baik
dan rajin beribadah dan pandai sekali menutup aurat,karena itu yang membuat aku jatuh cinta padanya. Sore hari selepas pulang kerja kami berdua berjalan-jalan ke Pinggir pantai mengendarai sepeda motor milik majikan kami, ini menjadi sore yang paling indah,Kami berdua duduk di tepi pantai, di pantai timur Pangandaran sambil menikmati panorama alam yang indah ini, saat itulah aku berani mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya kepada Pipit, alhasil Pipitpun mau menerima Cintaku, betapa bahagianya aku sore itu, tepat pada pukul 18.00 kami pulang ke tempat kerja dan aku pun langsung pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Semalaman aku tidak bisa tidur terbayang-bayang selalu wajah Pipit.sikapku yang aneh membuat orang-orang disekelilingku bertanya- tanya, apa yang terjadi padaku?, terutama Si Nur Cahyadi itu, dia selalu bertanya padaku : Nur: “Wahyu, ada apa sih,ngga biasanya kamu se ceria ini? kamu habis menang lotre ya?” Wahyu: “ah,, ngga juga… ada dehhh” Nur: “ih pelit kamu, ceritakan donk padaku apa yang membuat kamu begini,aku kan sahabatmu,” Wahyu:” iya…iya….iya… nanti malem aja ya!” Nur: “janji loh”Malam harinya aku dengan Nur berjalan-jalan menghitari kota Pangandaran yang indah ini,sampai suatu saat kami berhenti sejenak di sebuah rumah makan dan disinilah aku menceritakan semuanya pada Nur. Wahyu:”Nur,sebelumnya aku sangat-sangat mengucapkan beribu-ribu terima kasih padamu, dengan pekerjaan ini aku dipertemukan dengan seorang bidadari cantik,dan ini menjadi yang pertama bagiku,bidadari itu namanya Pipit Anggraeni dia orangSingaparna, Tasikmalaya, dia sosok wanita yang cantik dan baik hati. Nur:”wah…wah…wah… rupanya itu yang membuat kamu jadi ga jelas kaya gini?” Wahyu:” Ga jelas apanya maksud kamu?” Nur:”ya ngga
jelas,kamu jadi sering melamun” Wahyu:”oh ya? ngga juga” pukul 21.00 kami pulang kerumah. Hubungan kami semakin hari semakin menjadi,hingga suatu ketika Pipit mengajukan suatu permintaan padaku,bahwasanya dia ingin sekali dipertemukan dengan keluargaku, sebelumnya aku merasa keberatan tetapi pipit terus memaksa aku, hingga akhirnya akupun mempertemukan pipit dengan keluargaku, sore itu pukul 16.00 sepulang kerja aku pulang ke rumah dengan pipit mengendarai sepeda motor milik majikan kami. sesampainya dirumah ibuku begitu terkejut,ketika aku pulang bersama dengan seorang wanita, lalu aku memperkenalkan Pipit kepada keluargaku,terutama ibuku, tanpa berlama- lama lagi, pipit mencium
tangan ibuku,layaknya seorang anak, hatiku begitu terharu melihat semua itu. lama setelah ngobrol-ngobrol lalu pipit aku antarkan pulang ke tempat kerja sebelum malam tiba. Semenjak itu
hubungan kami semakin tambah erat. Hingga suatu ketika badai derita datang melanda, Senin,17 juli 2006,jam 4 sore aku pulang dari kerja , gempa berkekuatan 5.5 pada skala richter mengguncang kota Pangandaran,semua orang dikampungku ketakutan dan mengungsi ke dataran yang lebih tinggi (pager gunung) sebegitu takutnya sampai-sampai aku tidak memakai baju,untungnya Nur,sahabat sejati, dia membawa bekal pakaian dan memberikanya padaku,aku terpisah dengan keluargaku,aku hanya bersama teman- teman sekampung. Dalam pengungsian aku selalu terbayang-bayangwajah pipit,entah dia masih hidup ataupun sudah mati, tempatku bekerja memang persis dipinggir pantai, dalam pengungsian kami hanya semalam keesokan paginya selepas sholat shubuh kami pulang melewati hutan rimba yang begitu luas dan hanya menggunakan penerang obor yang terbuat dari bambu. Sesampai dirumah ternyata keluargaku sudah ada dirumah, mereka begitu mengkhawatirkan aku, dan Alhamdullilah dikampung kami tidak terjadi apa-apa,Tsunami hanya menerpa sebagian pinggiran pantai saja, namun begitu banyak korban jiwa yang berjatuhan dan orang- orang yang kehilangan tempat tinggal, pagi-pagi itu juga aku datang ke pantai ke tempatku bekerja,tempat itu sudah porak-poranda rata dengan tanah, aku begitu sedih yang mendalam ketika aku harus kehilangan pipit wanita pertama yang aku cintai. setelah itu aku pulang dengan hati yang remuk redam dan aku berceita banyak akan semua itupada sahabatku Nur Cahyadi, Wahyu:”Nur,inilah akhir dari kisah cinta pertamaku, Pipit anggraeni kini telah pergi untuk selama-lamanya” Nur:”Memang kehidupan ini sungguh sangat adil, ada senyum dan duka itu semua sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa,kita harus ikhlas menjalaninya.” Wahyu:”Iya benar kamu, Nur memang kamulah yang selalu ada dan menasehatiku,kaulah sahabatku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s